Tampilkan postingan dengan label Rumah Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2015

Bunga Tanpa Bangkai



Namanya Bunga, tinggal bersama keluarga pamannya di dusun Jati Raya. Tapi dia bukanlah Bunga Desa, karena pemegang title itu tentulah anak Pak Lurah. Seperti sudah diikrarkan bahwa tak ada yang menandingi kemolekan Sarani. Gadis yang bisa membuat para lelaki langsung menggunakan pomade.

Tapi, bagai memiliki karisma, Bunga yang tampilannya biasa-biasa saja, selalu berhasil jadi perhatian para warga. Tentu tetap tak bisa dibandingkan dengan Sarani. Kedua gadis ini ada di kubu yang berbeda. Tapi Bunga membuat para warga berkata, “Oh, si Bunga?...” setiap ada yang menanyakan atau membahasnya.

Dia bukanlah bunga yang slalu dihinggapi kupu-kupu. Ulatpun mungkin malas menyentuhnya. Beda dengan Sarani pemilik gelar bunga desa. Dia selalu semerbak mewangi. Kelebatan bayangannya saja bisa memercikkan bunga-bunga melati ataupun kelopak-kelopak mawar. Layaknya bunga sungguhan, Sarani selalu dikitari kupu.

Oh, apalah daya, apa gunanya Bunga? Ia dikucilkan tapi tetap dibiarkan hidup. Ia digunjingkan tapi tetap disapa. Jika Sarani layaknya ratu dari semua bunga. Lalu apakah Bunga ini termasuk bunga bangkai? Ah, tidak. Dia hanya bunga... tanpa kata bangkai.

Dia sama sekali tak beraroma sebusuk bangkai. Tiap selesai mandi, selalu ia semprotkan minyak wangi ke sekujur tubuhnya. Dia ingin dilihat, dia ingin dianggap. Tapi ia tetap kalah dengan aroma alami Saran, sang bunga desa.

Bukan seperti si Bunga Desa yang ada di halaman luas berpagar, yang selalu gembur tanahnya, yang disirami setiap pagi dan sore, yang terus dijejali pupuk-pupukan, yang dikelilingi ratusan kupu. Bunga ini hanya mengandalkan air seadanya di dalam tanah. Jika tanah mengering, jangan heran jika dia layu. Tapi dia terlatih untuk menunggu hujan.

Bunga kini sedang mencari jati diri. Ya, diri juga punya jati. Nama jenis pohon yang tumbuh di samping rumah pamannya. Konon katanya pohon itu sudah berumur setengah abad. Setiap pagi dia merenungi pohon itu.

Jati memang kokoh. Ah, pantas saja banyak orang mencarinya. Untuk menjadi pelekat dalam diri seseorang. Setiap pagi Bunga menyirami pohon jati yang sudah besar itu. Diameternya saja sudah tak cukup dalam pelukannya. Kebiasaannya itu kembali menjadi pergunjingan para warga. Bunga dianggap sudah tidak waras.

Telinga pamannya memanas. Bunga mendapat tegurandari beliau.

“Nak, pohon jati itu tidak perlu disiram lagi. Umurnya sudah lebih 50 tahun. Dia sudah besar, kokoh, sudah bisa hidup sendiri. Biarkanlah saja.” Ujar pamannya di suatu pagi.

“Apa paman percaya kalau jati ini sudah kokoh? Sudah tidak perlu perawatan lagi? Tinggal dibiarkan saja?” Bunga bertanya.

Pamannya diam saja, dia bingung mau menjawab. Takut salah omong malah Bunga menerjemahkannya lain lagi. Akhirnya dia mengangguk.

“Kalau benar begitu, aku jadi lega. Kalau orang membahas tentang jati diri, aku dengan bangga akan menunjukkan pohon ini.” Mata Bunga berbinar.

Pamannya kembali diam. Dibiarkannya Bunga memiliki pandangan sendiri. Tapi ia terus saja menjadi omongan warga. Hingga kini Bunga selalu disebut-sebut. Bangkai seolah melekat terus dalam namanya. Padahal tidak. Jika ada yang bertanya pasti jawabannya adalah...
“Oh, si Bunga? Yang anaknya pelacur itu?”
*ET

Jumat, 20 Maret 2015

Malam Rabu


Untuk kau... yang sedang duduk di seberang mejaku.

Malam ya tetap malam. Mau hujan, panas, dingin, berbintang, ada kau atau tidak, namanya tetap sama. Malam. Dan malam ini kau masih tetap sama. Kemeja kotak-kotak andalanmu yang selalu kau gulung lengannya. Jam tangan pemberianku masih lekat di pergelangan tangan kirimu. Jins yang masih itu-itu saja. Sepatu kets bertali putih dengan simpul pita yang tak kumengerti bagaimana kau membuatnya. Rambut tersisir rapi dengan polesan gel yang tampak licin. Semerbak parfum campuran aroma lime dan musk terbawa angin sepoi-sepoi. Rapi. Itu kesimpulanmu atas penampilanmu sendiri.

Ya, malam ini kita sedang dinner. Bukan, ini bukan malam Minggu. Ini malam Rabu. Salah satu hal yang masih tak kumengerti dari dirimu. Kau lebih memuliakan malam Rabu dari pada malam yang anak muda agungkan itu. Katamu, malam Rabu adalah malam terbaik yang Tuhan berikan padamu.

Aku suka menebak. Mungkin malam itu adalah malam kelahiranmu. Mungkin kau pernah mendapatkan hadiah besar di malam Rabu. Mungkin malam itu kau pernah menang lotre. Atau bahkan mungkin di malam itu kau pernah mengalami musibah terbesarmu, kecelakaan mungkin? Keluarga yang meninggal? Mungkin... ah, entahlah.

Jelas aku cemburu. Alasan apa sampai kau sangat berbahagia dengan malam Rabu? Yang pasti itu tidak ada kaitannya denganku. Malam resmi jadian kita? Tidak, itu malam Senin.

Oya, kau tak sadar bukan? Aku suka mengamatimu ketika makan. Dari dulu. Aku hafal bagaimana kau menata makanan di sendokmu. Bagaimana caramu mengunyah. Di saat-saat apa saja kau akan minum. Bagaimana caramu meneguk. Dan semua gerak-gerikmu di hadapan meja makan. Dan jujur, aku selalu jatuh cinta (lagi) di  saat kau sedang makan.
Malam ini menu di hadapan kita adalah spageti. Bumbu sausnya bercampur potongan jamur yang bentuknya mirip lumpur. Dua gelas es jeruk. Sepotong puding berhias buah ceri di samping piring spagetimu. Dan segulung es krim coklat sebesar bola kasti tertata cantik di samping piring spagetiku (kau ingatkan aku tak suka puding?).

Percakapan malam ini cukup ringan. Dimulai ketika kau menggulung spageti dengan garpu. Kau menanyakan kabar penyakit magku. Bagaimana selera makanku? Menanyakan hal-hal apa yang membuatku marah belakangan ini? Apakah aku mengganti sikat gigi? Siapa-siapa saja yang kutemui di jalan tadi? Pelayan mana di rumah makan ini yang tidak aku suka? Sampai pada, apakah Nobi (kucingku) tidak akan ganti nama selamanya? Semua sabar kujawab.

Setelah lama terdiam. Aku balas bertanya. Hanya satu pertanyaan. Apa kabar otak anehmu? Kau tergelak. Aku hanya diam. Memang tidak ada maksud buat stand up comedy di hadapanmu. Aku bertanya serius. Tapi, oke lah. Aku akhirnya tertawa juga. Dan pertanyaanku itu menguap bersama udara tanpa mendapat jawaban.

Kau memang aneh. Dan sekali lagi... aku jatuh cinta di suapan ke delapan spagetimu.

Dengan gerakan terburu, kau mendekat ke wajahku. Aku agak terkejut. Kau berbisik pelan. “Kau tahu kenapa aku suka malam Rabu?” aku menggeleng.

“Di malam Rabu, pertama kalinya aku tak sengaja melihatmu. Dan saat itu juga, diam-diam aku jatuh cinta padamu.”

Aku tak bisa menahan senyum. Rasa haru membuncah menguasai jiwaku. Meledak bersama semburan darah yang terpompa sembarangan oleh jantung. Dan aku tertawa keras sambil menjambak rambutmu.*ET

Selasa, 09 September 2014

Layang-Layang Tengah Malam

Sudah setengah jam berlalu, Nata sibuk menarik seutas benang yang ia urai di tangan kanan. Di tangan kirinya tergenggam kayu pendek kecil yang dililit benang hingga menggemuk. Kali ini dia tidak lagi memakai topi bundar pemberian Nenek yang sering kusebut topi koboi, walau sama sekali tidak mirip. Kaus oblong kebesaran berwarna coklat yang memudar itu berpadu dengan celana putih pendek yang sudah kekuning-kuningan, penuh corak segala macam noda dan getah. Di pinggangnya terikat kuat sebuah botol penuh dengan air. Kakinya telanjang. Menjejak-jejak tanah dengan rakus demi menarik untaian benang agar mendapat angin yang cukup. Dan benda di ujung benang, di atas sana, yang disebut layang-layang itu bisa terbang, gagah.

Aku hanya mengintip dari balik pohon kersen di tepi lapangan. Tak berani bergabung dengan sekumpulan manusia kerdil yang kepalanya selalu menadah ke langit itu. Aku takut Nenek mengetahui keberadaanku. Lalu menghukumku untuk tidak menyentuh masakannya yang menurutku selalu hambar.

Sial. Nenek sudah berdiri di belakangku. Tubuh bengkaknya selalu tampak seperti monster yang siap menelanku bulat-bulat. Detik berikutnya dia menyemburkan segala makian ke mukaku. Suaranya selalu terdengar keras dan kejam. Inti pembicaraannya sederhana; aku tidak boleh bermain layang-layang sebelum menyiangi ladang ubinya. Tapi entah kenapa selalu terdengar sangat panjang dan tajam menusuk-nusuk batinku. Aku bergeming, lalu melangkahkan kaki perlahan menjauhi tubuh gempalnya menuju ladang.

Baru beberapa langkah yang berhasil kuayun, terdengar Nenek mulai memaki Nata. Sudah pasti Nata mengabaikan pekerjaan wajibnya sama sepertiku. Pekerjaan wajib yang semena-mena dibuat oleh Nenek. Beda denganku yang harus menyiangi ladang, setiap pagi Nata harus ke pasar untuk membelikannya cengkeh dan tembakau. Kulirik sebentar. Nata menancapkan kayu bergulung benang ke tanah lalu berlari kilat menjauhi Nenek.

Aku kembali jalan. Berkali-kali kuhembuskan napas berat. Batinku terus mengutuk Nenek yang mewajibkanku mengurus ladang sementara dia duduk damai di kursi goyangnya. Kenapa harus aku? mengurus ladang adalah pekerjaan laki-laki. Bukan gadis kecil sepertiku yang pasti akan tumbuh manis dan cantik dewasa nanti.

Jujur, dengan tabiatnya yang seperti itu aku tak pernah menganggapnya sebagai nenekku. Definisi keluarga bagiku adalah adanya ayah, ibu dan anak. Tidak ada kata nenek, kakek, sepupu.... Belakangan ini aku baru tahu kalau dia memang bukan nenekku. Mungkin dia hanya iseng merawatku setelah ayah dan ibu dimasukkan ke sebuah lubang lalu ditimbun dengan tanah. Sampai saat ini aku masih terus mengutuk orang-orang yang melakukan itu pada orangtuaku. Katanya itu sebuah kewajiban, katanya aku belum bisa mengerti di usiaku yang dini. Hei, aku gadis pintar! Para tetangga itu pasti berusaha memperbodohiku. Mereka bersekongkol menghilangkan orangtuaku. Ah, aku lelah mengingat itu.

Beberapa ayunan cangkul berhasil kulakukan. Terdengar suara bagai isyarat dari arah rimbunnya semak blueberry. “psstt...ssstt...” kurasa pipiku memanas. Kudapati Nata kesusahan membawa setumpuk kayu kering. Seketika udara disesaki riuhan tawaku. Kemudian hening. Aku dan Nata duduk berhadapan. Setumpuk kayu kering diletakkan antara kita. Beberapa menit berikutnya kita sibuk berbicara dengan suara pelan, lebih mirip berbisik. Terkadang menggunakan isyarat-isyarat tangan, lalu menunjuk-nunjuk ke kayu dan beralih ke tanaman ubi. Kita selalu punya misi rahasia!


Bintang besar bernama matahari itu sudah dari tadi condong ke barat. Mulai tenggelam di balik pohon asam. Satu-satunya pohon yang ada di lahan luas nenek. Sinar orange kemerah-merahannya berpendar di balik pohon. Membuat si pohon asam tampak gagah, kokoh dan... sendiri, mungkin... kesepian

Pergelangan tanganku serasa pedih dicengkeram Nata yang menarikku ke arah lapangan. Waktunya menurunkan layang-layang. Beberapa anak lain juga berlari serabutan menjemput layangan masing-masing. Kita memang tidak pernah membiarkan layang-layang tetap terbang malam hari. “Nanti dimakan Hulk!” kata si kurus Toto. Entah mengapa, kita percaya. Padahal kita hanya tahu wujud Hulk dari gambar di kaus milik Fiki. Tak ada yang tahu asal-usul Hulk. Yang kita tahu Hulk adalah raksasa berwarna hijau dan bertubuh mengerikan. Dan selalu disangkut-pautkan dengan hilangnya layang-layang yang dibiarkan pada malam hari.

Hawa dingin menusuk-nusuk kulit. Aku dan Nata sudah sampai di halaman belakang rumah nenek. Layang-layang bergambar kucing itu Nata sandarkan di pohon pisang. Dari dalam rumah terdengar gemuruh suara nenek. Terlalu panjang, cepat dan keras. Kita hanya bisa menangkap beberapa potong kata. “jangan pergi...” “...hukuman lagi...” dan “kalian juga akan dimakan Hulk!...” aku dan Nata terkekeh menahan tawa.

Sekejap saja Nata berlari ditelan pekatnya malam. Lalu muncul kembali dengan napas satu-satu. Ia membopong beberapa batang ubi kayu hasil curian di kebun nenek. Kayu kering tadi juga sudah siap. Api dinyalakan. Terciptalah api unggun ala pramuka. Satu-satu ubi curian ini kita bakar di sela-sela kayu yang membara.

Amarah nenek makin menjadi-jadi. Ocehannya belum juga berhenti. Lebih parah lagi, terdengar suara kakinya menuruni tangga. Gawat! Buru-buru Nata mengunci semua pintu dari luar. Tahu bahwa pintu telah dikunci, suara nenek makin meninggi hingga serak. Aku terpingkal-pingkal hingga perutku perih. Nata kembali, meraih ranting. Tangannya jahil mencungkil-cungkil ubi agar tidak gosong.

Membakar ubi hingga matang ternyata cukup lama. Atau hanya aku yang tidak sabaran? Kulontarkan pertanyaan yang sudah pasti membuat telinga Nata alergi, karena amat sering.

“Aku hanya mengikutinya. Itu saja.” Itu jawaban dari pertanyaanku. Jawaban yang juga membuat telingaku alergi. Aku memang selalu heran, mengapa Nata begitu patuh dengan pekerjaan wajib yang dibuat nenek. Padahal dia bukanlah cucunya, tidak pula tinggal bersama kami. Akulah yang mungkin... wajar patuh, karena katanya... aku berhutang budi telah ia rawat.

Berjam-jam berikutnya kita sibuk melahap ubi bakar hangat yang selalu nikmat melintasi kerongkongan. Aku mulai mengantuk. Sebelum kita berpisah, Nata berbisik di telingaku. “Besok kita punya misi penting! Aku punya layang-layang baru.” Nata berbicara dengan penuh semangat. Aku sempat berpikir iseng, mungkin tadi Nata sempat menelan kembang api, bicaranya sampai meledak-ledak begitu. Hihi.... Dia berlari kembali ditelan gelap malam. Dan aku berjalan menuju rumah, siap diterkam nenek.


Pagi, bagai tak bosan datang lagi. Sinar matahari yang masuk di celah-celah fentilasi menjemputku segera ke lokasi. Lokasi tempat penerbangan layang-layang. Di sana sudah ada Nata. Dia girang menyadari kedatanganku lalu menunjuk-nunjuk ke langit. Mataku mencoba mengikuti arah telunjuknya.

Yang mana punya Nata? Aku membatin. Susah menemukannya di antara puluhan layangan, apa lagi setinggi itu. Yang itu... yang itu!! Dia bersorak. Ah, indahnya! Layang-layang berbentuk naga dengan ekornya yang panjang.

Belum lama kita terkagum-kagum dengan si naga, suara nenek datang mengganggu. “Nata, cepat pergi beli tembakau di kota!” teriaknya. Kenapa harus di kota? Biasanya Nata selalu beli di pasar. Aku membatin, kuyakin Nata pasti berpikiran yang sama. Tapi dia hanya diam. Terlalu patuh. Dan Nata akhirnya pergi. Anehnya, nenek tidak lagi meneriakiku untuk menyiangi ladang atau memanen ubi. Dia hanya memelototiku lalu berlalu pergi.


Matahari mulai meninggi, keringatku bercucuran. Nata belum juga datang. Aku memutuskan untuk berteduh di bawah pohon kersen sambil menunggunya. Dan tiba-tiba... suara gemuruh itu terdengar. Memekakkan telinga. Lalu gerombolan asap pekat bergulung-gulung menuju langit. Itu dari arah kota.

Banyak warga mulai panik. Beberapa di antaranya menyebutkan satu kata dengan histeris. Bom. Ya, benda bernama bom itu diduga yang meledakkan kota. Aku tak bergerak, tak mampu. Aku masih di bawah pohon kersen, menekuk lutut, gemetar. Aku ingat Nata.

Tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Nenek. Dia menarikku dengan paksa. Membawaku pulang. Hiruk-piuk menyengat telinga. Beberapa mobil berwarna putih memasuki kampung. Menurunkan kantung-kantung berisi manusia. Satu di antaranya dibawa ke rumah nenek.

Katanya di kantung itu berisi tubuh Nata. Rumah jadi sangat ramai dengan isakan tangis. Aku tidak mengerti. Hanya aku dan nenek yang tidak menangis. Dengan segala tahap yang ada. Sampai pada saat di mana tubuh Nata dimasukkan ke tanah yang berlubang. Aku meronta dan terus berteriak.

“Hari sudah malam! Kita harus segera menurunkan layang-layang! Nanti dimakan Hulk!!” tidak ada yang menjawab hingga lubang itu mulai ditimbun kembali dengan tanah. Aku berteriak lagi. “Dulu ayah dan ibu, sekarang Nata. Mereka bukan ubi-ubi di ladang Nenek yang selalu ditimbun tanah! Mereka milikku!”

“Mereka sudah mati!” bisikan nenek bagai hujaman tombak es di telingaku. Mati?

“Nenek membunuh Nata. Nenek membunuh Nata!” erangku.

“Siapa yang membunuhnya?!” elak nenek.

“Nenek yang menyuruhnya ke kota!” aku berlari sampai di bawah pohon kersen. Duduk memeluk lutut sambil menggigil karena dingin yang mencekam. Malam begitu pekat. Aku tak bisa melihat layang-layang naga itu lagi. Aku sangat takut akan Hulk yang segera datang.


“Nataa... ayo turunkan layang-layangnya. Nanti Hulk datang dan melahapnya.” Aku terisak. Masih di sana, dengan harapan Nata bisa bangkit dan berhasil keluar dari timbunan tanah terkutuk itu. Belakangan aku baru sadar. Aku menggigil bukan hanya karena dingin tapi juga takut. Aku berjanji akan terus menunggu dan menemani sang naga, agar ia tak takut menghadapi Hulk. Hingga malam telah larut. *ET


Dipublikasikan dalam Kendarinews.com 31 Agustus 2014

Rabu, 18 Juni 2014

KADO DARI LAUTAN

Mama sedang sibuk bolak-balik menyiapkan makan malam di rumah sederhana itu. Makanannya juga sederhana, ada nasi, sambal, sayur asam dan yang mama hidangkan terakhir adalah ikan lure goreng.
“Nah, semua sudah siap, ayo makan.” Kata Mama.
 Semua anggota keluarga yang terdiri dari tujuh orang sudah siap duduk bersila di tikar yang terbuat dari anyaman bambu. Mereka semua melingkari makan malam mereka, bagaikan sedang melakukan ritual api unggun pada perkemahan. Dengan adil Mama memberikan satu sendok nasi ke setiap piring, sepucuk sendok sambal, dua sendok sayur asam, dan beberapa ekor ikan lure.
“Ma, kenapa setiap hari kita hanya makan ini? Semua warga disini adalah nelayan, Bapa juga nelayan. Tidak adakah ikan lajang, ikan bandeng, udang, cumi-cumi, kepiting, lobster...”
“Alif.!!” Mama menyela ucapan Alif. Baru kali ini Alif memprotes makanan yang disajikan Mamanya.
“Makan saja apa yang ada, jangan menuntut terlalu banyak, syukurilah.” Papa ikut berbicara. “Lihat adik-adikmu, mereka makan dengan lahap, kau juga makanlah.”
Alif melirik ke keempat adiknya. Perlahan ia mulai menyendokkan nasi ke mulut. Tangannya gemetar, ia sedang menahan air di pelupuk matanya. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Ia tidak bisa menutupi lagi keluh hatinya. Sungguh miris hatinya, ia adalah anak seorang nelayan, ia tinggal di pesisir pantai, dan ia tahu bahwa laut ini menyimpan kekayaan. Namun ia hidup dalam kemiskinan. Dan impian terbesarnya adalah bisa menikmati jenis ikan yang lain, bukan hanya ikan lure.
Bunyi hewan-hewan malam mulai terdengar. Alif dan Bapa sedang duduk berdua di beranda rumah yang menghadap langsung ke pantai. Suara ombak berpadu dengan hembusan angin, kolaborasi yang sangat merdu–lagu alam paling indah.
“Alif... berapa umurmu sekarang, nak?” Bapa berbicara dengan lembut, pandangannya tak lepas dari pantai.
“Dua hari lagi umur Alif empat belas tahun.” Alif juga terus memandang pantai.
“Kamu sudah semakin besar ya. Apa keinginanmu, Alif?”
“Alif ingin makan ikan yang lain, Bapa. Alif sangat ingin.” Mata Alif berkaca-kaca.
“Bapa tahu, kita semua juga ingin itu. Sekarang Bapa tanya Alif, bagaimana caranya kita bisa sampai di tengah lautan untuk mendapatkan ikan?”
“Tentu saja dengan perahu.”
“Nah, Bapa belum punya perahu sendiri. Bapa juga tidak bisa membeli ikan dari nelayan lainnya, harganya sangat mahal.”
“Lalu, kenapa Bapa tidak membeli perahu sendiri?”
“Harga sebuah perahu tidaklah murah, nak.”
Alif terdiam, tak tahu hendak berkata apa lagi. Bapa tahu, sudah lama Alif ingin mereka mempunyai perahu sendiri, tidak lagi harus menyewa perahu. Dengan perahu itu mereka bisa mencari ikan tanpa batas waktu dan Alif bisa juga menggunakannya untuk pergi ke sekolah yang letaknya ada di seberang pulau. Hening kembali menyerbu. Suara ombak dan hembusan angin kini kembali terdengar dengan jelas tanpa terhalang obrolan bapa dan Alif.
***
            Adzan subuh sudah terdengar dari tadi. Seperti biasa, suara merdu Pak Mahmud yang mendayu dari sebuah surau dengan lampu minyak yang menempel di dindingnya. Cahaya di langit belum terang betul. Namun, perahu kecil tanpa mesin mulai didorong menjauhi pantai. Enam orang anak berseragam SMP siap menaiki perahu itu.
            Beberapa kelompok anak juga mulai menyerbu pantai. Mereka menyiapkan perahu yang biasa mereka tumpangi. Setiap perahu biasanya dipenuhi oleh enam sampai tujuh anak dengan empat buah dayung yang siap mereka gunakan mengarungi lautan demi sekolah. Sekolah mereka ada di seberang pulau, oleh karenanya setiap selesai sholat subuh mereka mulai bersiap mendayung perahu kecil mereka.
            Enam anak dalam satu perahu kecil sangatlah tidak nyaman. Seharusnya setiap perahu hanya bisa ditumpangi oleh empat orang anak saja. Namun karena jumlah perahu yang terbatas, mereka terpaksa berdesak-desakan. Keseimbangan perahupun sering terganggu. Semua perahupun sudah tak layak pakai. Bocor di sana-sini dan kayu-kayunya mulai lapuk.
            Alif dan Eko–teman satu perahunya–sibuk menguras air yang masuk ke perahu melalui celah-celah kecil perahu yang bocor. Tangan-tangan kecil yang memegang potongan botol plastik bekas itu tak henti-hentinya bekerja agar perahu mereka tidak tenggelam karena air yang masuk.
            Sembari melakukan aktivitas itu, Alif juga sedang sibuk mengkhayal. Fikirannya melayang seolah waktu sedang berputar ke obrolan bersama Bapa semalam. Alif ingat bagaimana Bapa bercerita, jika dia ingin makan jenis ikan yang lain maka ia harus memiliki perahu sendiri agar bisa mencari ikan sepuasnya. Mendadak keinginan terbesar Alif–yang tadinya ingin makan jenis ikan yang lain–berubah menjadi ingin memiliki perahu sendiri. Alif tersentak kaget ketika Eko mengoyang-goyangkan bahunya.
            “Apa yang kau lamunkan Alif?”
            “Aku mengkhayal punya perahu, Ko. Dengan perahu itu aku bisa mendapatkan ikan yang banyak. Dan perahu itu juga akan aku pakai untuk ke sekolah. Kita tidak perlu berdesak-desakkan seperti ini lagi” Cerita Alif.
            “Memangnya Bapa kau punya uang, Alif? Harga perahu kan tidak seperti harga lure.” Kata Eko.
            “Bapa memang tidak punya uang. Kan tadi aku bilang, aku cuma mengkhayal saja. Sudahlah, ayo cepat dayung perahunya nanti kita terlambat.” Komando Alif dituruti semua teman-temannya.
***
            Jam dinding berbentuk kotak persegi dengan kaca retak itu menunjukkan pukul sepuluh malam. Bapa belum pulang-pulang juga. Bapa tidak ada di rumah, entah ke mana tak ada yang tahu. Alif cemas menunggu kedatangan beliau. Berkali-kali ia mondar-mandir dari dalam ke beranda rumah. Tidak seperti biasanya Bapa seperti ini.
            Jarum jam terus berputar menunjukkan sekarang sudah tengah malam. Remang-remang dari arah laut tampak siluet Bapa berjalan terburu-buru menuju rumah.
            “Bapa dari mana?” sergap Alif duluan bahkan ketika Bapa belum sempat menginjak beranda rumah.
            “Alif? Kenapa keluar rumah? Harusnya kau sudah tertidur, ini sudah tengah malam. Pergilah tidur, nak. Besok kau harus bangun pagi-pagi, besok hari terindahmu kan? Semoga lautan memberikan kado untukmu.” Bapa melangkah masuk dan melepaskan topinya.
            Alif jadi teringat, besok adalah hari ulang tahunnya yang ke empat belas. Tapi apa maksud Bapa dengan ‘semoga lautan memberikan kado untukmu’? Alif tak ingin bertanya apa-apa lagi. Bapa terlihat sangat lelah. Akhirnya Alif memutuskan untuk tidur.
***
            Suara adzan terdengar lagi di hari yang baru ini. Warna jingga di langit mulai tampak dengan berani. Aktivitas di pantai mulai terlihat, para nelayan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
            Sepagi itulah Alif biasa bangun. Hari ini hari ulang tahunnya. Ia begitu semangat dan langsung menuju pantai. Bagaimanapun juga ia masih ingat ucapan Bapa semalam. Alif tak bisa bohong, dia memang penasaran apakah ada kado dari lautan yang diberikan untuknya? Kado semacam apakah itu?
            Langkah-langkah kakinya terlihat memburu. Dengan cepat ia sudah sampai di pantai. Disana terdapat sebuah perahu berukuran sama dengan perahu di pantai itu pada umumnya. Perahu itu baru pertama kalinya ia lihat dan masih tampak baru. Senyum Alif mengembang.
            “Kau suka, Alif? Selamat ulang tahun, nak” suara Bapa terdengar dari arah belakang Alif.
            “Perahu siapa itu Bapa?” tanya Alif tidak sabar.
            “Itu perahumu, perahu kita. Kado dari lautan.”
            “Benarkah?” tanya Alif tak percaya.
            “Tentu. Nah, sekarang mari kita mencobanya.” Ajak Bapa.
            “Tapi Bapa, kenapa perahunya dicat warna merah, putih dan biru? Kenapa bukan merah dan putih saja? Itu akan terlihat lebih nasionalisme.”
            “Sudahlah, yang penting ada merah putihnya, warna bendera Indonesia.”
            “Tidak bisa begitu! Warnanya merah, putih dan biru, itu bendera Belanda, Bapa!” protes Alif.
            “Hal kecil seperti itu jangan dipermasalahkan. Bersyukurlah kita sudah punya perahu. Mari kita berburu ikan.”

            Mendengar kata ‘ikan’ Alif segera luluh hatinya. Dan dengan bahagia Ayah dan Anak itu mendayung perahu mereka ke tengah lautan–berburu ikan. Ribuan ekor ikan telah menunggu mereka. Inilah... kado dari lautan.*ET

Selasa, 17 Juni 2014

Pita Merah Leony

             Suara angin menggoyangkan daun-daun jambu yang dipadukan dengan kicauan burung di sekitarnya adalah alunan musik merdu yang tersaji alami sore itu. Gynan sangat menikmatinya. Duduk didahan pohon jambu air sambil sesekali ujung jarinya menyentuh sayap kupu-kupu yang lalu lalang dipandangannya. Kupu-kupu yang berasal dari kebun bunga matahari itu memang satu-satunya teman Gynan kala itu.
            Gynan menyandarkan punggungnya di dahan sedikit condong. Kupu-kupu tadi tak kunjung berhenti lalu lalang dipandangannya. Seolah ingin mengajaknya bermain, bagai sudah akrab dengan Gynan yang baru saja kembali mengunjungi tempat itu setelah selama 3 tahun menghilang entah tak tahu rimbanya.
            Gynan masih sangat ingat bagaimana peristiwa ‘serangan badai salju’ itu terjadi. Semua itu bermula dari kejahilannya sendiri yang curang dengan mengambil secara diam-diam buah jambu yang sudah dipetikkan oleh salah satu sahabatnya. Dan ternyata dia mendapatkan balasan berupa serangan badai salju itu. Serangan itu berupa guguran jambu-jambu air karena dahan pohonnya digoyang-goyangkan oleh sahabatnya itu. Tapi anehnya, sahabatnya itu menganggap jambu-jambu yang jatuh itu adalah salju.
            Saat itu Gynan cukup panik. Tapi dia tak kehabisan akal untuk kembali membalas. Gynan yang terlihat ketakutan mengambil posisi tiarap sampai akhirnya badai salju itupun berhenti. Sahabat gadisnya itu sangat terlihat panik dan merasa bersalah. Gynan ingat betul bagaimana ekspresi wajah lucu sahabatnya itu.
            Tanpa disadari, Gynan tersenyum sendiri mengingat kejadian menggelikan itu. Heeehh. . .rasa rindu begitu menjalari seluruh peredaran darahnya. Tapi, sekarang sudah berbeda.
            “Berbeda sekali…semuanya sekarang beda…banyak yang berubah…semoga kamu tidak…” Kata-kata beruntun yang terucap begitu tenang. Perlahan. Terbata-bata. Ada sesuatu yang menyesakkan di setiap jedanya. Kata-kata itu tidak berlanjut, Gynan menelan ludahnya yang tawar. Terasa sakit sekali didadanya. Gynan merasakan perihnya kembali. Perpisahan 3 tahun yang lalu adalah perpisahan terberatnya. Gynan masih sangat ingat, perpisahan itu bukanlah perpisahan yang baik melainkan perpisahan yang buruk, karena berpisah dalam hubungan yang tidak baik dan dibumbui pertengkaran hebat.
 Lalu Gynan memilih untuk memejamkan matanya, menahan perih. Sementara itu, tangannya menggenggam kotak kecil berwarna merah. Menggenggamnya semakin erat. Tak terduga ada bulir bening yang meleleh di sudut matanya.
***
            Tangan kanan yang melentang itu menyentuh rimbunan kelopak bunga matahari. Sambil memejamkan matanya, Alika sibuk menciumi ini-itu.
            “Hm..aroma bunga matahari plus aroma segar jambu air…” Alika menempelkan segerombol jambu air yang ia bawa ke hidungnya.

            “Di tambah lagi aroma kuaci yang sadaap..! hm…nyam-nyam…” tambah Alika sambil menutup matanya dan masih mengendus-endus. Dia begitu menikmati perpaduan bau-bau itu.
Keberadaannya di tengah-tengah kebun bunga matahari membuatnya sulit terlihat. Karena dia memakai dress warna kuning-orange dan menggunakan pernak-pernik bunga matahari. Seperti jepit rambut bunga matahari, gambar dibajunya, gelangnya, hingga sepatu yang ia pakai berhiaskan aksesoris bunga matahari. Gadis ini memang sangat menyukai bunga matahari.
***
            Langkah itu tergesa-gesa, namun kemudian menjadi sangat pelan dan hati-hati. Kedua kaki yang menggunakan sepatu balet berwarna putih itu terus melangkah menuju kearah selatan. Gadis yang memakai sepatu itu tampak ceria, sesekali langkahnya berjingkat. Memandangi jutaan bunga matahari yang bertebaran di tanah luas itu. Matanya makin berbinar ketika disambut dengan puluhan kupu-kupu yang beterbangan disekitarnya. Entah mengapa gadis ini terlihat sangat rindu pada tempat itu.
            Kunjungannya kali ini akan digunakan sebagai pengobat rasa rindunya…rasa rindu yang telah terkubur 3 tahun yang lalu. Tapi, disela-sela keceriannya saat itu, terselip raut wajah yang datar. Entah merasa kecewa, menyesal atau prihatin. Yang ia tahu, semuanya sangat berubah… gadis bernama Leony itu menghentikan langkahnya lalu menatap lama ke arah jutaan bunga matahari yang mekar dengan semangatnya.
            Leony sangat ingat bagaimana kondisi 3 tahun yang lalu di saat perpisahan itu. Tanah luas ini dulu adalah tanah lapang yang hanya terdapat jutaan bunga ilalang yang putih bersih bersebaran dimana-mana. Kini tak ada lagi yang tersisa. Hanya bunga-bunga matahari setinggi bahu orang dewasa yang tumbuh dengan suburnya dan kupu-kupu yang terkadang hinggap dikepalanya.
            Leony meneruskan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Berjalan tenang dengan senyum yang terbit diwajahnya. Namun dalam fikirannya, terus berkejaran mengingat kembali saat-saat 3 tahun silam. Bernostalgia dengan tempat itu.
            Tak lama ia melangkah, Leony kembali berhenti. Pandangannya kini tertuju kearah 10 meter didepannya, dimana di sanalah tumbuh dan berdirinya pohon jambu air. Raut wajahnya berubah menjadi ragu. Akankah ia meneruskan langkahnya? Menuju pohon jambu air yang penuh dengan berjuta kenangan masa lalunya, tempat dimana perpisahan itu terjadi??
            Namun kakinya tetap kukuh melangkah walau perlahan.
            “Agen Neptunus…??” kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Leony ketika melihat seseorang sedang berbaring di atas pohon jambu. Walau suaranya pelan, namun seseorang di atas pohon itu cukup jelas mendengar suara itu.
            Gynan…ya, dia mendengar dengan jelas suara Leony. Seketika matanya terbuka dan jantungnya berdegub kencang. Namun dia belum yakin kalau itu suara Leony yang menyapanya dengan sebutan ‘agen neptunus’. Nama panggilan mereka dulu. Tapi, entah apakah Leony sengaja memanggilnya atau hanya kata yang keluar tanpa bisa dikontrol?
            “Serangan badai salju…??” mata Leony masih belum berkedip mengamati sesuatu di atas pohon itu. Kata-kata yang ia ucapkanpun keluar begitu saja dan belum ia sadari.
            Mendengar suara yang kedua kalinya, Gynan makin yakin. Ia menegakkan duduknya. Karena saking kagetnya, Gynan hamper jatuh. Untung saja tangannya cekatan memegang dahan disampingnya sehingga menggoyangkan seluruh dahan yang lainnya. Belum sempat dia membenarkan posisi duduknya, pandanganya tertumbuk pada sosok indah yang berdiri dengan mata beningnya tak jauh dari pohon jambu.
            “Agen Neptu…nus…??” kata-kata yang sama terulang lagi. Tapi kali ini bukan dari Leony. Dari Gynan…
            Rasanya Leony ingin mengambil aba-aba ‘balik kanan grak.!!’ Lalu lari secepatnya meninggalkan tempat itu sambil nangis-nangis nggak jelas. Namun ternyata dia tak bisa melakukan itu. Kaki Leony bagai tertancap erat di tanah itu. Dan dia hanya bisa diam terpaku pada posisi ‘siap grak..!’
            “Leony.? Tunggu-tunggu…!” Gynan berucap dengan terburu-buru sambil merosot turun dari pohon jambu dengan tergesa. Padahal seharusnya walaupun Gynan turun dari pohon itu menghabiskan waktu yang lama tanpa mengharapkan Leony menunggunya, Leony tidak akan pergi. Karena ia tak mampu melangkahkan kakinya.
            “Ka…kamu sejak kapan ada di sini?” kalimat itu ayng terucap dari Gynan setelah mengumpulkan tenaga dan berhasil berdiri dengan tegak dihadapan Leony yang masih bungkam.
            “A…a-ku.?” Leony menunjuk dirinya sendiri, berusaha meyakinkan bahwa benar dirinya yang dimaksud gynan.
            “Iya…kamu…” Gynan memberikan kepastian dengan nada canggung.
            “Owh…baru saja.” Senyum tulus mengembang diwajah Leony.
            “Kamu kok bisa ada di sini?”
            “Radar neptunus mungkin..?” Leony membentuk jari kedua tangannya seperti antena dan ia letakkan diatas kepalanya. Gynan refleks langsung mengikuti gerakan Leony. Dia juga membentuk antena sebagai gerak isyarat yang menandakan radar Neptunus.
            Dulu, sewaktu mereka masih kecil, mereka mempunyai gank beranggotakan 3 orang. Gank itu diberi nama Aquarius, karena mereka semua berzodiak Aquarius. Dan dulu mereka yakin dengan adanya dewa Neptunus sang dewa air.
            “Bukan…bukan mungkin. Ini memang radar Neptunus.” Sahut Gynan mantap.
            Beberapa detik kosong. Masing-masing hanya saling diam dan hanya mata yang berpandangan. Bagai menemukan oasis yang pernah hilang selama 3 tahun ini. Lalu Gynan menarik tangan Leony. Menuntunnya duduk di bawah pohon jambu itu. Leony hanya menurut tanpa protes apapun. Tak cukup tenaganya untuk sekedar menolak ajakan lelaki yang pernah menjadi sahabat sekaligus kekasihnya itu.
            Lama Leony terdiam menahan pelupuk matanya yang berat dan hangat. Banyak detik ia lalui dengan menatap kesekeliling, ke arah lain. Menyembunyikan raut wajahnya yang berubah.
            “Ini…” kata yang terucap dari Gynan itu terdengar menggantung.
            Leony mengereyipkan matanya ketika melihat kotak kecil berwarna merah yang Gynan tunjukkan. Apa lagi ketika Gynan membuka kotak itu, Leony makin terkejut. Benda itu sangat bersejarah baginya. Namun sudah tak bersamanya lagi sejak bertahun-tahun silam.


            “Ini…aku berikan lagi untuk kamu…”
            “Tapi…ini…”
            “Ini milikmu..!” potong Gynan dengan nada yang tak tahu mengapa bisa berubah tegas.
Napas Leony jadi tak menentu, sesak sekali rasanya. Dadanya masih naik turun dan terdengar isakan kecil.
“Ini aku berikan untuk yang kedua kalinya…dan tak akan pernah ada untuk yang ketiga kalinya, jadi ku mohon terimalah…” ucap Gynan dengan lembut dan berbisik.
Butir yang ketiga jatuh meluncur di pipi Leony. Bergetar tangannya ketika menyentuh benda itu lagi. Pita merah yang dulu pernah menjadi miliknya. Namun dulu harus berpisah dan ia kembalikan pada Gynan.
“Nah, kamu cantik seperti itu…” puji Gynan tulus sambil mengusap air mata di pipi Leony setelah pita merah itu kembali dikenakan di rambut Leony.
“Aku kangen sama kamu yang dulu, kita yang dulu, semua yang dulu…” Gynan berucap sambil memandang bunga-bunga matahari. Sementara Leony masih belum mampu berkata-kata.
“Tapi…kenapa tempat ini jadi kebun bunga matahari ya? Padahal, dulu yang kita lihat hanyalah bunga-bunga ilalang putih.”
“Ku rasa, semuanya memang berubah bersama berjalannya waktu. Mungkin pemilik semua lahan ini bosan melihat ilalang yang itu-itu saja. Ingin mencari yang baru…” jawab Leony sekenanya.
“Hm…Alika. Ya, dia yang dulu paling heboh ingin memiliki semua lahan ini. Agar kita bisa bermain di sini sepuasnya. Kalau sekarang dia ada di sini pasti dia senang melihat bunga matahari sebanyak ini.”
“Dia di mana ya.?” Ada rasa sesak di dada Leony ketika melontarkan pertanyaan itu. Dia tahu bahwa Alikalah dalang dari perpisahan tragis antara dirinya dan Gynan.
Tak disadari oleh keduanya. Dari rimbunan pohon bunga matahari ada seseorang yang mengamati. Dia menarik dan menghembuskan napas berat untuk mengumpulkan seluruh tenaganya sebelum memberanikan diri keluar dari rimbunan.
“Haii…!! Kejutaan…!!”
Sontak Gynan dan Leony benar-benar terkejut. Lalu menatap aneh pada makhluk yang keluar dari kebun bunga matahari.
“Peri bunga matahari…??” Tanya Gynan, entah pada dirinya sendiri, pada Leony atau pada makhluk itu.
Yah…mirip…” tambah Leony yang matanya tak berhenti mengamati gadis yang pakaiannya dari atas sampe bawah penuh dengan pernak-perbik bunga matahari.
“Tapi kok nggak ada sayapnya..?”
“Sialan kalian…!! Bukannya disambut dengan ceria malah diejekin…” omel Alika. Gadis itu.

“Itu bukan ejekan, itu pujian…” gelak tawa seketika pecah diantara Gynan dan Leony. Sedangkan Alika masih bersungut kesal.
“Kalian kok bisa ada di sini?” Tanya Alika.
“Radar Neptunus..!!” Gynan dan Leony kompak menjawab sambil membentuk antenna dikepalanya.
“Wah, jadi kita bertemu karena radar Neptunus…?” Alika ikut-ikutan membentuk antenna.
Alika lalu berjalan mendekat kearah Gynan dan Leony. Berpelukan dengan Leony dan saling mengucapkan rasa rindu serta kata-kata lainnya. Terlepas dari pelukan Leony. Gynan kemudian memeluk Alika sembari berkata…
“Kamu cantik banget, beneran kayak peri bunga matahari. Kamu kuat, tegar dan kokoh seperti bunga matahari itu. Tumbuh tinggi tanpa ragu dan memunculkan bunga yang begitu mengagumkan…aku bangga sama kamu…” Gynan mengucapkan kata-kata itu sangat pelan dan seolah tulus dari hatinya. Alika mendengarnya dengan jelas. Bahkan napas Gynan terasa berhembus ditelinganya dan suara itu bergetar.
Alika sangat bahagia saat itu. Ia sungguh tak menyangka dapat bertemu dengan kedua sahabatnya itu. Dan terlebih Gynan mengucapkan kalimat yang membuat perasaannya tenang itu.
Namun, baru saja Alika merasakan bahagia, tiba-tiba ia malah terkejut. Pita merah itu. . .telah tersemat kembali di rambut Leony. Sesak sekali. Alika hanya bisa menelan ludahnya yang bagai menelan sebutir bakso yang belum sempat terkunyah. Sakit sekali.
“Woe…! Apaan nih.??”
Alika terkejut sadar dari lamunanya ketika mendengar teriakan Gynan. Dan ternyata tangan kanannya yang memegang buah jambu air dan sekantong kuaci sudah diangkat tinggi-tinggi di udara oleh Gynan.
“Eiit…ok ok, aku jelasin, jadi aku harap kalian duduk yang manis ya…” gaya berbicara Alika sudah benar-benar mirip dengan peri yang akan memberikan petuah pada dua sejoli itu. Setelah Gynan dan Leony duduk, Alika mulai menjelaskan.
“Ini buah jambu air yang paling merah, paling besar, paling manis, paling segar, paling…”
“Paling bohong.!!” Potong Leony sambil cekikikan.
“Hu-uh, dengerin dulu.!” Kesal Alika.
“Leony sayang…dengerin aja dulu, nurut sama peri, kasian tuh perinya ngambek…” ujar Gynan yang juga ikut cekikikan.
Deegg..!!
Jantung Alika serasa copot mendengar dua kata pertama yang diucapkan Gynan. “Leony sayang…??” ulangnya dalam hati. Sakit lagi yang ia rasakan. Alika sadar, ia terlalu cemburu pada kedua sahabatnya itu. Tapi ia tak bisa bohong. Sampai saat ini, rasa itu masih sama pada Gynan. Rasa cinta.

Alika juga ingat, dialah yang menyebabkan pertengkaran diantara Gynan dan Leony saat perpisahan kala itu. Gynan dan Leony mungkin juga tahu tentang itu. Tapi mereka bersikap biasa saja saat ini. Itu yang membuatAlika sedikit merasa lega.
“Woe.! Kok bengong sih? Lanjut dong.” Ujar Gynan dengan mata berbinar. Alika merasakan obat penenang hatinya dari tatapan mata Gynan. Alika langsung bersemangat untuk cerita lagi.
“Nah, yang ini adalah kuaci, snack untuk hari ini…”
“Eh, tunggu-tunggu. Dari mana kamu dapat jambu air? Kan sekarang nggak berbuah.” Tanya Leony sambil mendongakkan kepalanya kearah rimbunnya daun jambu.
“Owh, begini, buah jambu ini aku ambil dari neri peri khusus buat kalian sahabat-sahabatku. Dan aku sebagai peri bunga matahari, makanya aku udah siapain kuaci paling lezat untuk tamu-tamu terhormatku yang sudah mau singgah di kebunku…”
“Haa?? Kebun kamu?? Maksudnya? Kok aku jadi nggak ngerti sih?” pertanyaan beruntun dari Gynan.
“Begini kawan-kawanku…perhatikan ya, jangan sampai satu katapun yang kalian lewatkan. Ini…dari sini ke sana, dari sana ke sana lagi, semuanya milikku, kebunku… taraa…!!” jelas Alika dengan bersemangat dan berakhir dengan posisi kedua tangan melentang, kaki kanan ditekuk ke atas dan tampang wajah unyu.
“Ha? Beneran??” Gynan langsung loncat dan memeluk Alika. Leony terperanjat, Alika pun kaget.
“Gak nyangka keinginan kamu kesampaian juga, selamat yaa…berarti kita bisa sepuasnya di sini dong.??” Ujar Gynan dengan ceria.
“Em, eh, iya.” Alika melepaskan pelukan itu ketika melihat perubahan raut wajah Leony dan pita merah yang menyesakkan dadanya itu.
“Udah deh, ayo kita nikmati makanan yang tersedia dari kebunku ini, dibawain peri cantik lagi, haha…” Alika terkekeh sendiri disusul Leony dan Gynan.
Alika buru-buru meletakkan jambu air yang sudah ia gigit dan langsung membentuk antenna dikepalanya lalu berteriak, “Radar Neptunuuus…!!”
Gynan dan Leony mengikuti gerakannya dan juga sama-sama mengucapkan “Radar Neptunuuss…!!”
Begitulah ketiga sahabat Aquarius itu bisa bersama lagi, ceria algi. Dengan bersama-sama membentuk antenna radar Neptunus, bersatulah kembali ketiga sahabat Aquarius itu.

Namun ada satu yang tak bisa merasakan kebahagian sepenuhnya. Alika…ia harus menutupi lagi semua rasanya, semua cintanya. Demi persahabatan yang jauh lebih indah dari segalanya. Karena bagaimanapun juga, pita merah lambing cinta Gynan pada Leony, pita merah yang sangat ia inginkan bisa merekat dirambutnya telah tersemat abadi dan kembali pada pemiliknya…Leony...*ET